Beranda | Artikel
Khotbah Jumat Masjid Nabawi - Lidah Pangkal Kebaikan Sekaligus Sarang Keburukan
Rabu, 21 November 2018

خطبة الجمعة من المسجد النبوي1ربيع الأول 1440 هـ

الخطيب فضيلة الشيخ د. عبد الله بن عبد الرحمن البعيجان

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 8 Rabiul Awal 1440 H

Khotib : Shekh Dr. Abdullah bin Abdurahman Al-Buaijan

Judul: “Lidah Pangkal Kebaikan Sekaligus Sarang Keburukan”

Penerjemah : Usman Hatim

Khotbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia, mengunggulkannya, memberinya akal pikiran sebagai alat pepemahaman (wahyu) sekaligus titik sentral penugasan hukum taklif, menganugerahinya lisan sebagai sarana berekspresi dan pengungkapan maksud serta pengajaran ilmu. Maha suci Allah yang menyempurnakan dan meluruskan penciptaan manusia. Sungguh Allah sebaik-baik Pencipta.

Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Akupun bersaksi, Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Allah mengutusnya untuk menyampaikan petunjuk dan kebenaran agama sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Dan sungguh beliau telah menyampaikan kebenaran itu dengan penuh amanat. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah sebanyak-banyaknya kepadanya beserta segenap keluarga dan sahabatnya.

Selanjutnya :

Sebaik-baik perkataan adalah firman Allah, sebaik-baik ajaran adalah ajaran Nabi Muhammad bin Abdullah, setiap perbuatan bid’ah tersesat, dan setiap kesesatan di neraka.

Hamba Allah!

Aku berpesan kepada diriku dan Anda semua untuk selalu bertakwa kepada Allah, sebagai pesan Allah kepada umat terdahulu dan generasi kemudian. Firman Allah :

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ .[ النساء/131]

“Sungguh Kami telah berpesan kepada orang-orang Ahli kitab sebelum Anda dan kepada Anda semua agar bertakwa kepada Allah”.Qs.An-Nisa: 131

Kaum muslimin!

Luka di tubuh demikian menghunjam sehingga dampaknya menyentuh relung hati. Kalaulah luka akibat tusukan tombak dapat dipulihkan kembali, maka tidaklah demikian dengan luka akibat tusukan lidah.

Lidah merupakan sarana berekspresi, pengungkapan dan penerjemah maksud dalam hati. Ukuran dan volumenya memang kecil, namun besar bahaya keburukan yang ditimbulkannya. Dengan lidah, menjadi jelas garis pemisah antara keimanan dan kekafiran yang merupakan puncak ketaatan dan pembangkangan seseorang. Maka sebagaimana peluang kebaikannya terbuka lebar, demikian pula peluang kejahatannya.

Melalui lidah muncul tuduhan-tuduhan dan persangkaan negatif terhadap wanita-wanita beriman yang tak berdosa, tersebar berbagai kekacauan dan konflik, tersiar rahasia-rahasia privasi dari tempat persembunyiannya, terburai kehormatan dan hak milik pribadi, tertanam benih-benih fitnah, kedengkian, kegundahan dan penyesalan dalam hati, timbul kata-kata makian, dampratan, adu domba, hujatan, desas-desus, kutukan, gunjingan, tuduhan, kekejian, perkataan kotor dan umpatan.

Lidah tidak pernah lelah bergerak dan tidak pernah kering berbicara. Semua ucapannya tercatat dan harus dipertanggung jawabkan pada hari penghitungan amal.

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ . [ق/18]

“Tidaklah seseorang melepaskan suatu ucapan melainkan di sampingnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir”. Qs. Qaf:18

Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari memegang lidahnya seraya berkata :

أَخَذَ النبيُّ صلَّى اللهُ علَيْه وسَلَّمَ يَوْمًا بِلِسَانِهِ وَقَالَ: يا مُعَاذُ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا، فَقَالَ مُعَاذُ : وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

“Hai Muaz, tahanlah ini. Muaz bertanya : Akankah kami dihukum lantaran kata-kata yang kami ucapkan ? Jawab beliau : Sayangilah ibumu hai Muaz! Bukankah wajah atau batang hidung manusia terjerembap di neraka hanya gara-gara lidah mereka?”.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mendengar Rasulallahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.

“Ada orang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang membuatnya terjerumus di neraka lebih jauh dari pada jarak timur dan barat”.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata :

” اسْتُشْهِدَ غُلَامٌ مِنَّا يَوْمَ أُحُدٍ، فَوُجِدَ عَلَى بَطْنِهِ صَخْرَةٌ مَرْبُوطَةٌ مِنَ الْجُوعِ، فَمَسَحَتْ أُمُّهُ التُّرَابَ عَنْ وَجْهِهِ وَقَالَتْ: هَنِيئًا لَكَ يَا بُنَيَّ الْجَنَّةُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا يُدْرِيكِ؟ لَعَلَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ فِيمَا لَا يَعْنِيهِ “

“Ada seorang bocah di antara kami gugur dalam perang Uhud, di perutnya terdapat batu besar yang diikatkan karena kelaparan, lalu ibunya mengusap debu di wajahnya sambil berkata, “Beruntunglah engkau anakku dengan surga”. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apa Anda tahu ?, bisa jadi dia pernah membicarakan sesuatu yang tidak penting baginya”.

Suatu hari Ibnu Mas’ud naik bukit Shafa, lalu menarik lidahnya dan berkata :

يَا لِسَانُ، قُلْ خَيْرًا تَغْنَمْ، وَاسْكُتْ عَنْ شَرٍّ تَسْلَمْ، مِنْ قَبْلِ أَنْ تَنْدَمَ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «أَكْثَرُ خَطَايَا ابنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ»

“Hai lidah, berkatalah yang baik supaya beruntung. Jangan bicara keburukan supaya selamat sebelum menyesal nanti. Lalu ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersaba : “Kebanyakan dosa anak Adam disebabkan lidahnya”.

Hamba Allah!

Cukuplah keburukan seseorang jika sampai menghinakan saudaranya sesama muslim; setiap muslim terhadap sesama muslim terpelihara darahnya, hartanya dan kehormatannya.

Penuturan seorang muslim tentang hal ihwal saudaranya sesama muslim yang tidak disukainya di depan matanya identik dengan caci maki, sedangkan di belakangnya; baik terkait dengan fisiknya, agamanya, dunianya, penampilannya, perilakunya, hartanya, anaknya, pasangan hidupnya, pakaiannya atau gerakannya; baik dengan ucapan, isyarat, aba-aba, tulisan atau peragaan adalah menggunjing jika memang faktanya seperti yang diceritakan. Namun jika tidak sesuai, maka itulah menggunjing, menzalimi, mendustai dan mengibuli sekaligus.

Hamba Allah!

Dosa riba memiliki 72 pintu; yang paling ringan adalah seperti seorang lelaki menggauli ibunya sendiri. Satu Dirham hasil riba lebih kotor dari pada 36 perbuatan zina. Ingat ! riba yang paling keji, riba yang paling keji, adalah kelancangan seseorang dalam membicarakan kehormatan saudaranya sesama muslim tanpa alasan yang benar.

Kaum muslimin!

Penyakit lidah dan penularannya, perangkap dan penjebakannya adalah penyebaran kabar burung, penyiaran berita hoax, merajut kabar yang dibuat-buat, mecabut rasa percaya terhadap umat Islam dan memposisikan mereka sebagai umat yang patut dicurigai, memperkeruh kejernihan persaudaraan Islam sehingga memecah belah persatuan umat, merongrong sinergisme mereka dan menggoyah stabilitas keamanan mereka.

Acap kali berita hoax menggelisahkan warga yang tidak bersalah; betapa banyak berita seperti itu menghancurkan para tokoh, mengoyak hubungan kerjasama, menimbulkan tindak kriminal, mencerai beraikan persahabatan, menghancurkan masyarakat, meruntuhkan kehidupan rumah tangga, memisahkan antar sahabat karib, menghamburkan harta, membuang-buang waktu, menyedihkan hati, memanaskan telinga dan membuahkan penyesalan. Alhasil karena berita hoax, laju perjalanan bangsa terhambat.

Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ . [الحجرات/12]

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” Qs.Al-Hujurat : 12

Dan firmanNya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ .[الحجرات/6]

“Hai orang-orang beriman, jika ada orang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu kekeliruan kepada suatu kaum akibat ketidak tahuan yang membuatmu menyesal atas perbuatanmu itu”. Qs. Al-Hujurat:6

Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata, aku mendengar Rasulallah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنِ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللَّهُ فِي رَدْغَةِ الْخَبَالِ وَهِيَ عَصَارَةُ أهْلِ النَّارِ»

“Barangsiapa menggunjing seorang mukmin tentang sesuatu yang tidak sesuai fakta, maka Allah menempatkannya di kubangan cairan pembakaran badan penghuni neraka”.

Sahal bin Muaz meriwayatkan dari ayahnya radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَمَى مُسْلِمًا بِشَيْءٍ يُرِيدُ بِهِ شَيْنَهُ حَبَسَهُ اللهُ عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

“Barangsiapa menuduh seorang muslim tentang suatu hal dengan maksud mencoreng namanya, maka Allah akan menahannya di atas jembatan neraka Jahanam hingga ia terbebas dari apa yang ia tuduhkan”.

Kaum muslimin!

Allah melindungi kehormatan kaum muslimin sebagaimana Dia melindungi darah dan harta mereka, bahkan memerintahkan mereka membela kehormatan itu dengan jiwa dan harta.

Penodaan terhadap kehormatan kaum muslimin melalui penyebaran berita hoax ke semua penjuru, mempropagandakan prasangka, syakwasangka, kedustaan dan kebohongan, mengada-ada, mengibuli, menipu, mengolok-olok, menebar racun fitnah lewat media massa dan berbagai situs media sosial, semua itu adalah merusak kehormatan yang seharusnya terlindung, dan termasuk tindak kejahatan yang membahayakan serta fitnah yang menyesatkan. Maka seyogianya seorang muslim menghindari hal itu.

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata dalam periwayatan marfu’:

مَنْ أَشَاعَ عَلَى امْرِئٍ مُسْلِمٍ كَلِمَةَ بَاطِلٍ لِيُشِينَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُذِيبَهُ بِهَا مِنَ النَّارِ حَتَّى يَأْتِيَ بِنَفَاذِهَا

“Barangsiapa yang membeberkan kata-kata palsu atas harga diri seorang muslim untuk merendahkannya di dunia, maka Allah pasti akan meluluh lantakkannya di neraka hingga habis dosa kepalsuannya”.

Camkanlah, orang yang menyebarkan suatu kekejian adalah sama dengan penggagas pertamanya, dia menanggung dosanya sekaligus dosa orang yang meneruskannya sampai penerima terakhirnya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ» رواه مسلم

“Cukuplah seseorang berbohong ketika ia menceritakan setiap berita yang didengarnya”. HR.Muslim

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ . [النور/15]

“Ketika Anda menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan Anda katakan dengan lidah Anda apa yang tidak Anda ketahui. Anda menganggapnya persoalan ringan, padahal itu di sisi Allah persoalan besar”. Qs.An-Nur:15

===00===

Khotbah Kedua

Segala puji bagi Allah yang melindungi darah, kehormatan dan harta benda melalui agama-Nya, dan menghukum orang yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-Nya baik dengan perbuatan maupun ucapan. Allah menjadikan sesama orang mukmin bersaudara dan mengilhamkan di antara mereka rasa kasih sayang dan saling mengasihi.

Kaum muslimin!

Merusak kehormatan dan mengintip skandal seseorang merupakan malapetaka dan bencana sekaligus fitnah dan kemungkaran paling berbahaya. Hal itu berdampak pada lemahnya keimanan dalam hati.

Abi Baraza al-Aslami radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

” يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ؛ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ ” . رواه أحمد

“Hai orang yang beriman di mulut, namun keimanannya belum menyentuh hatinya, janganlah Anda menggunjing kaum muslimin dan janganlah mengintai aurat mereka; barangsiapa yang mengintai aurat mereka, maka Allah akan membeberkan auratnya. Dan barangsiapa yang auratnya telah Allah beberkan, maka Allah mempermalukannya di rumahnya sendiri sekalipun”. HR. Ahmad.

Oleh karena itu, lindungilah kehormatan Anda dan jagalah lidah Anda.

Hamba Allah!

Seorang muslim mempunyai martabat terhormat yang dilindungi syariat Islam, dan orang yang melanggarnya terancam hukuman. Maka janganlah ada seseorang yang melanggarnya dan merusaknya.

Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma suatu hari memandang Ka’bah seraya berkata :

“مَا أَعْظَمَكِ، وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ”

“Sungguh agung dan mulia kedudukanmu, namun martabat seorang mukmin lebih agung di sisi Allah dari pada kedudukanmu”.

Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhotbah pada hari raya kurban seraya berkata:

«أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟»، قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، قَالَ: «أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟» قُلْنَا: بَلَى، قَالَ: «أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟»، قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، فَقَالَ «أَلَيْسَ ذُو الحَجَّةِ؟»، قُلْنَا: بَلَى، قَالَ «أَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟» قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، قَالَ «أَلَيْسَتْ بِالْبَلْدَةِ الحَرَامِ؟» قُلْنَا: بَلَى، قَالَ: «فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟»، قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: «اللَّهُمَّ اشْهَدْ، فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ، فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي  كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ»

“Tahukah Anda, hari apakah ini ?”.Kami menjawab, Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi terdiam hingga kami mengira beliau akan menyebutnya dengan nama lain. Lalu bersabda : “Bukankah ini hari raya kurban?”. Kami menjawab, benar. Beliau bertanya :”Bulan apakah ini?”. Kami menjawab, Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi terdiam hingga kami mengira beliau akan menyebutnya dengan nama lain. Lalu bersabda :“Bukankah ini bulan Zulhijah?”. Kami menjawab, benar. Beliau bertanya :”Negeri manakah ini?”. Kami menjawab, Allah dan rasulNya lebih mengetahui. Nabi terdiam hingga kami mengira beliau akan menyebutnya dengan nama lain. Lalu bersabda : “Bukankah ini Negeri tanah suci?”. Kami menjawab, benar. Beliau lalu bersabda : “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah terpelihara seperti terpeliharanya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini sampai kalian menghadap Tuhan. Camkanlah, bukankah aku telah menyampaikan?”. Mereka menjawab, benar. Beliau mengucapkan : “Ya Allah, saksikanlah. Maka hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir; betapa banyak orang yang dikabari lebih mengerti dari pada orang yang mendengarnya langsung. Maka janganlah kalian kembali kafir sesudahku; sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain”. HR. Bukhari.

Hamba Allah!

Menghindari larangan harus diperioritaskan dari pada ketaatan dan berbuat kebajikan. Orang yang bangkrut ialah orang yang bekerja membanting tulang, hanya saja ia pandir sehingga menghambur-hamburkan hasil kerjanya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ» رواه مسلم

“Tahukah kalian siapakah orang bangkrut itu?” Mereka menjawab : Orang bangkrut di antara kami ialah orang yang tidak memiliki uang dan harta benda sama sekali. Beliau menjelaskan : “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, puasa dan zakat; namun ia memaki orang ini dan menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darahnya dan memukul orang itu. Akhirnya ia harus membayar hak si fulan dari pahala kebaikannya, dan hak si fulan dari pahala kebaikannya pula. Jika kebaikannya telah ludes sebelum kewajibannya terbayar, maka dosa kesalahan mereka dikurangi untuk kemudian dibebankan kepadanya lalu dirinya dicampakkan ke neraka”.HR.Muslim

Kaum muslimin!

Kerajaan Arab Saudi, negeri dua tanah suci, tempat turunnya wahyu, kiblat kaum muslimin dan tumpuan hati mereka. Allah memilihnya sebagai titik tolak bagi agamanya, mercusuar dakwah kepada agamaNya dan tempat berlabuh umat tauhid (penganut monoteis).

Dari sinilah cahaya Islam terpancar dan prinsip-prinsip moderat, kedamaian, keilmuan dan keimanan dibangun, selain negeri ini merengkuh dengan penuh kehangatan setiap muslim yang mengunjunginya. Semoga Allah membalas para penguasa negeri ini dengan sebaik-baik balasan.

Perlu diingat bahwa segala berita yang mengandung kebohongan yang dikobarkan dan disebar luaskan oleh para pendengki terhadap negeri ini hanyalah fitnah dan bagian dari perang sengit yang dilancarkan oleh lawan-lawan Islam terhadap umat ini. Itulah sebabnya, perlu kita memohon kekuatan kepada Allah untuk menangkal serangan mereka itu.

Ya Allah, lindungilah dan jagalah negeri ini dengan perlindungan dan penjagaanMu. Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman, sentosa dan tenteram beserta seluruh negeri kaum muslimin wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin dan hinakanlah kemusyrikan dan kaum musyrikin.

=== Doa Penutup ===

Versi Video:

Logo

Artikel asli: https://firanda.com/2329-khotbah-jumat-masjid-nabawi-lidah-pangkal-kebaikan-sekaligus-sarang-keburukan.html